<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ari supriyanto&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://arisupriyanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arisupriyanto.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Jun 2009 02:38:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arisupriyanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ari supriyanto&#039;s Blog</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arisupriyanto.wordpress.com/osd.xml" title="Ari supriyanto&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arisupriyanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>5 Hukum Komunikasi Efektif</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/5-hukum-komunikasi-efektif/</link>
		<comments>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/5-hukum-komunikasi-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 02:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arisupriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisupriyanto.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=16&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.</p>
<p>Hukum # 1: Respect<br />
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.<br />
Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.</p>
<p>Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa &#8220;Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.&#8221; Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.<br />
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.</p>
<p>Hukum # 2: Empathy<br />
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.<br />
Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand -<br />
understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.</p>
<p>Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer&#8217;s behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.</p>
<p>Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.</p>
<p>Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh<br />
karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.</p>
<p>Hukum # 3: Audible<br />
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.</p>
<p>Hukum # 4: Clarity<br />
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi.<br />
Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.<br />
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.</p>
<p>Hukum # 5: Humble<br />
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah<br />
hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar<br />
dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.</p>
<p>Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arisupriyanto.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arisupriyanto.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=16&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/5-hukum-komunikasi-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70557f6f6b7fffe681491824eccf8617?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arisupriyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMUNIKASI</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/komunikasi/</link>
		<comments>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 02:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arisupriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisupriyanto.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka pembahasan mengenai “ teknik komunikasi ” terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian komunikasi. Jadi, sebelum kita mengadakan paparan untuk menjawab pertanyaan “ bagaimana kita berkomunikasi ” (how to communicate), terlebih dahulu kita harus merasa jelas tentang “ apa itu komunikasi ” (what is communication), pengertian komunikasi dengan segala aspek yang dicakupnya. Pengertian komunikasi hams [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=11&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka pembahasan mengenai “ teknik komunikasi ” terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian komunikasi. Jadi, sebelum kita mengadakan paparan untuk menjawab pertanyaan “ bagaimana kita berkomunikasi ” (how to communicate), terlebih dahulu kita harus merasa jelas tentang “ apa itu komunikasi ” (what is communication), pengertian komunikasi dengan segala aspek yang dicakupnya. Pengertian komunikasi hams ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu komunikasi dalam pengertian secara umum dan pengertian secara paradigmatik, sehingga akan menjadi jelas bagaimana pelaksanaan teknik komunikasi itu. 1. Pengertian komunikasi secara umum Setiap orang yang hidup dalam masyarakat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi, secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi. Terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations). Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang yang saling berhubungan satu sama lain yang, karena berhubungan, menimbulkan interaksi sosial (social interaction). Terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi (intercommunication). Komunikasi dalam pengertian umum dapat dilihat dari dua segi: a. Pengertian komunikasi secara etimologis. Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communication dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Perkataan communis tersebut dalam pembahasan kita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal. Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu ddak komunikatif.</p>
<p>b. Pengertian komunikasi secara terminologis. Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi, yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu, komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human communication, yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau social comunication. Komunikasi manusia sebagai singkatan dari komunikasi antarmanusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi kemasyarakatan karena hanya pada manusia-manusia yang bermasyarakat terjadinya komunikasi. Masyarakat terbentuk dari paling sedikit dua orang yang saling berhubungan dengan komunikasi sebagai penjalinnya. Robinson Crusoe, yang hidup menyendiri di sebuah pulau terpencil, tidak hidup bermasyarakat karena dia hidup sendirian. Oleh sebab itu dia tidak berkomunikasi dengan siapa-siapa. Dari pengertian di atas/ komunikasi yang dibahas di sini tidak termasuk komunikasi hewan, komunikasi transendental, dan komunikasi fisik. Komunikasi hewan adalah komunikasi antarhewan. Gajah dengan gajah berkomunikasi, bumng dengan bumng berkomunikasi, dan sebagainya. Pada kenyataannya memang ada manusia berkomunikasi dengan hewan, misalnya polisi dengan anjing pelacak, petani pembajak sawah dengan kerbau piaraannya, dan sebagainya. Tetapi komunikasi tersebut tidak termasuk pembahasan di sini. Komunikasi transendental adalah komunikasi dengan sesuatu yang bersifat “ gaib ” , termasuk komunikasi dengan Tuhan. Orang yang sedang sembahyang, baik yang sedang melakukan kewajibannya sebagai umat beragama ataupun yang tengah meminta sesuatu, misalnya sembahyang hajat atau sembahyang istikharah di kalangan pemeluk agama Islam, adalah tengah berkomunikasi dengan Tuhan. Tetapi komunikasi jenis ini bukan komunikasi sosial, komunikasi antarmanusia. Komunikasi fisik adalah komunikasi yang menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain, misalnya dua tempat yang dihubungkan oleh kereta apt, bis, pesawat terbang, dan lain-lain kendaraan, yang mengangkut manusia. Tetapi ini bukan komunikasi sosial atau komunikasi antarmanusia.</p>
<p>Jadi, bukan masalah yang dibahas disini, meskipun ada kalanya terdapat kaitannya pula dengan komunikasi antarmanusia, misalnya surat berisikan pesan seseorang kepada orang lain yang diangkut oleh kereta api atau pesawat terbang. Jadi, teknik berkomunikasi yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan di sini adalah komunikasi antara seseorang dengan orang lain, komunikasi manusia atau komunikasi sosial yang, sebagaimana ditegaskan di atas, mengandung makna “ proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain ” . 2. Pengertian komunikasi secara paradigmatis Telah dijelaskan di muka dalam pengertian secara umum komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial. Komunikasi dalam pengertian ini sering terlihat pada perjumpaan dua orang. Mereka saling memberikan salam, bertanya tentang kesehatan dan mengenai keluarga, dan sebagainya. Atau dapat disaksikan pada dua orang yang, meskipun tidak saling mengenai sebelumnya, tetapi karena duduk berdekatan, lalu terlibat dalam percakapan, misalnya di dalam kereta api, bis, atau pesawat terbang.</p>
<p>Pada kedua contoh situasi komunikasi itu tidak terdapat tujuan apa- apa, tetapi sekadar membunuh waktu karena rasanya tidak enak duduk bersama-sama berjam-jam tanpa saling menyapa. Dalam pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan ter-tentu; ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi, atau film, maupun media nonmassa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman, poster, spandoek, dan sebagainya. Jadi komunikasi dalam pengertian paradigmatis bersifat intensional (intentional), mengandung tujuan; karena itu harus dilakukan dengan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu, bergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran. Mengenai pengertian komunikasi secara paradigmatis ini banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi dari sekian banyak definisi itu dapat disimpulkan secara lengkap dengan menampilkan maknanya yang hakiki, yaitu:</p>
<p>Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Dalam definisi tersebut tersimpul tujuan, yakni memberi tahu atau mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion), atau perilaku (behavior). Jadi ditinjau dari segi si penyampai pernyataan, komunikasi yangbertujuan bersifat informatifdan persuasif. Komunikasi persuasif (persuasive communication) lebih sulit daripada komunikasi informatif (informative communicattion), karena memang tidak mudah untuk mengubah sikap, pendapat, atau penlaku seseorang atau sejumlah orang. Demikian pengertian komunikasi secara umum dan secara paradigmatis yang penting untuk dipahami sebagai landasan bagi penguasaan teknik berkomunikasi. Adalah komunikasi secara paradigmatis yang dipelajari dan diteliti ilmu Komunikasi.</p>
<p>PROSES KOMUNIKASI Dari pengertian komunikasi sebagaimana diutarakan di atas, tampak ada-nya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Dalam “ bahasa komunikasi ” komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut: &#8211; komunikator &#8211; orang yang menyampaikan pesan; &#8211; pesan &#8211; pernyataan yang didukung oleh lambang; &#8211; komunikan &#8211; orang yang menerima pesan; &#8211; media &#8211; sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya; &#8211; efek &#8211; dampak sebagai pengaruh dari pesan. Teknik berkomunikasi adalah cara atau “ seni ” penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan</p>
<p>komunikator adalah pemyataan sebagai paduan pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran, dan sebagainya. Pernyataan tersebut dibawakan oleh lambang, umumnya bahasa. Dikatakan bahwa umumnya bahasa yang dipergunakan untuk menyalurkan pemyataan itu, sebab ada juga lambang lain yang dipergunakan, antara lain kial &#8211; yakni gerakan anggota tubuh &#8211; gambar, warna, dan sebagainya. Melambaikan tangan, mengedipkan mata, mencibirkan bibir, atau menganggukkan kepala adalah kial yang merupakan lambang untuk menunjukkan perasaan atau pikiran seseorang. Gambar, apakah itu foto, lukisan, sketsa, karikatur, diagram, grafik, atau lain-lainnya, adalah lambang yangbiasa digunakan untuk menyampaikan pemyataan seseorang. Demikian pula warna, seperti pada lampu lalu lintas: merah berarti berhenti, kuning berarti siap, dan hijau berarti berjalan; kesemuanya itu lambang yang dipergunakan polisi lalu lintas untuk menyampaikan instruksi kepada para pemakai jalan. Di antara sekian banyak lambang yang biaa digunakan dalam komunikasi adalah bahasa, sebab bahasa dapat menunjukkan pemyataan seseorang mengenai hal-hal, selain yang kongkret juga yang abstrak, baik yang terjadi saat sekarang maupun waktu yang lalu dan masa yang akan datang. Tidak demikian kemampuan lambang-lambang lainnya.Yang penting dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yakni: a. dampak kognitif, b. dampak afektif, c. dampak behavioral Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan lain perkataan, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran diri komunikan. Dampak afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan komunikator bukan hanya sekadar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah, dan sebagainya.</p>
<p>Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan. Untuk contoh mengenai ketiga jenis dampak di atas dapat diambil dari berita surat kabar. Pernah sebuah surat kabar membuat berita yang dilengkapi foto mengenai seorang wanita yang menderita tumor yang menahun sehingga pemtnya besar tak terperikan. Peristiwa yang diberitakan lengkap dengan fotonya itu menarik perhatian banyak pembaca. Berita tersebut dapat menimbulkan berbagai jenis efek. Jika seorang pembaca hanya tertarik untuk membacanya saja dan kemudian ia menjadi tahu, maka dampaknya hanya berkadar kognitif saja. Apabila ia merasa iba atas penderitaan perempuan yang hidupiya tidak berkecukupan itu, berita tersebut menimbulkan dampak afektif. Tetapi kalau si pembaca yang tersentuh hatinya itu, kemudian pergi ke redaksi surat kabar yang memberitakannya dan menyerahkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada si penderita, maka berita tadi menimbulkan dampak behavioral</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arisupriyanto.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arisupriyanto.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=11&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70557f6f6b7fffe681491824eccf8617?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arisupriyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KECAKAPAN KOMUNIKASI INTER-PERSONAL</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/kecakapan-komunikasi-inter-personal/</link>
		<comments>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/kecakapan-komunikasi-inter-personal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 01:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arisupriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisupriyanto.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Didi Kurniadinata Consultant and Trainer PT. Cipta Bina Sesama e-mail: didi_kurniadinata@yahoo.com 1. Kecakapan Mengelola Konflik Kecakapan mengelola konflik adalah kecakapan yang sangat penting dari seorang pimpinan atau manajer. Menurut penelitian dari The American Management Association, 20 persen waktu seorang manajer ternyata digunakan untuk mengelola konflik. Konflik adalah perbedaan yang timbul yang menghasilkan ketidakcocokan dan pertentangan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=7&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Didi Kurniadinata<br />
Consultant and Trainer<br />
PT. Cipta Bina Sesama<br />
e-mail: didi_kurniadinata@yahoo.com</p>
<p>1.	Kecakapan Mengelola Konflik<br />
Kecakapan mengelola konflik adalah kecakapan yang sangat penting dari seorang pimpinan atau manajer. Menurut penelitian dari The American Management Association, 20 persen waktu seorang manajer ternyata digunakan untuk mengelola konflik.<br />
Konflik adalah perbedaan yang timbul yang menghasilkan ketidakcocokan dan pertentangan. Karena itu ada yang berpandangan bahwa (1) konflik harus dihindari karena akan memakan ongkos yang mahal. Sementara yang lain berpandangan bahwa (2) konflik adalah sesuatu yang alami dan wajar terjadi dalam suatu organisasi. Dan golongan lain lagi berpandangan bahwa (3) konflik adalah kekuatan positif yang diperlukan bahwa sangat penting bagi organisasi agar dapat berkinerja dengan efektif.<br />
Cara mengembangkan Kecakapan Mengelola Konflik<br />
a.	Pilihlah konflik yang dapat dikelola. Tidak semua konflik memerlukan anda untuk mengelolanya. Sebagian konflik hanya membuang waktu atau tidak mungkin dikelola.<br />
b.	Evaluasi Orang Yang terlibat konflik. Agar efektif dalam menangani konflik anda harus tahu benar sifat setiap orang yang terlibat konflik tersebut.<br />
c.	Kenalilah Sumber Konflik. Konflik tidak terjadi diudara kosong. Mesti ada sebab yang membuatnya terjadi. Menurut penelitian ada tiga penyebab konflik yaitu (1) perbedaan komunikasi, (2) perbedaan struktur dan (3) perbedaan pribadi.<br />
d.	Kenalilah pilihan yang anda miliki. Pilihan mana yang dapat anda pilih, yaitu Penghindaran, Akomodasi, Pemaksaan, Kompromi atau kolaborasi.</p>
<p>2.	Kecakapan Memberi Umpan Balik<br />
Umpan balik terdiri dari umpan balik positif dan umpan balik negatif. Umumnya seseorang memberikan umpan balik positif secara langsung atau tidak menunggu lama. Tetapi kita cenderung agak sungkan untuk menyampaikan umpan balik negatif, karena khawatir akan memberikan akibat yang tidak mengenakan. Sebagai akibatnya umpan balik negatif sering dihindari, ditunda atau disamarkan. Padahal baik itu umpan balik positif maupun negatif sama pentingnya bagi kemajuan seseorang.<br />
Cara Mengembangkan Kecakapan Memberikan Umpan Balik<br />
Ada 6 cara yang disarankan agar kita dapat memberikan umpan balik secara efektif, yaitu:<br />
a.	Pusatkan kepada Perilaku Tertentu. Umpan Balik harus spesifik ketimbang sangat umum yang membuat efektifitas umpan balik menjadi jauh berkurang.<br />
b.	Jagalah agar umpan balik tetap tidak menyentuh unsur Pribadi. Umpan Balik, khususnya yang negatif, tidak boleh bersifat pribadi serta memberi label. Misalnya daripada anda mengatakan bahwa  ‘anda plin-plan’ anda lebih baik mengatakan, ‘anda telah mengubah keputusan tentang hal yang sama tiga kali dalam waktu satu jam’.<br />
c.	Jagalah agar umpan balik tetap berorientasi Tujuan. Apapun isi umpan balik yang disampaikan tetaplah bertujuan untuk kebaikan bersama, dan jangan demi kepentingan diri sendiri.<br />
d.	Waktu yang tepat. Pemberian umpan balik yang tepat umumnya adalah tidak lama sesudah seseorang melakukan sesuatu. Tidak lama bukan berarti langsung dalam hitungan detik sesudah seseorang melakukan kesalahan, misalnya, tetapi tepat atau ditunda beberapa saat.<br />
e.	Yakinkan Pemahaman. Singkat, Padat, Tepat. Anda bisa meminta orang yang diajak bicara untuk meyampaikan pemahamannya terhadap umpan balik yang diberikan.<br />
f.	Arahkan Umpan Balik Negatif menuju Perilaku yang bisa Dikendalikan oleh si Pelaku. Jika seseorang melakukan kesalahan, sebaiknya tidak dikritik tentang kesalahannya tersebut, tetapi diarahkan pada faktor yang dapat dia kendalikan sehingga kesalahan yang sebelumnya dia buat tidak terulang lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arisupriyanto.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arisupriyanto.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=7&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/kecakapan-komunikasi-inter-personal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70557f6f6b7fffe681491824eccf8617?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arisupriyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UKURAN EMOSI DAN KECERDASAN EMOSI</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/ukuran-emosi-dan-kecerdasan-emosi/</link>
		<comments>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/ukuran-emosi-dan-kecerdasan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 01:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arisupriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arisupriyanto.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[UKURAN EMOSI DAN KECERDASAN EMOSI (Emotional Quotient &#38; Emotional Intelligence) Oleh : Moh. Mahbub Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy. ARISTOTLE, The Nicomachean Ethics. Mukadimah Coba pikirkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=4&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>UKURAN EMOSI DAN KECERDASAN EMOSI<br />
(Emotional Quotient &amp; Emotional Intelligence)<br />
Oleh :<br />
Moh. Mahbub</p>
<p>Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy.<br />
ARISTOTLE, The Nicomachean Ethics.<br />
Mukadimah<br />
Coba pikirkan beberapa insiden yang telah terjadi seperti berikut:<br />
1. Sebulan lalu telah terjadi satu kejadian di mana lima orang sekeluarga telah dibunuh dengan kejamnya. Mereka telah ditikam beberapa kali sehingga hasilnya amat mengerikan. Apakah puncak dari kejadian itu?<br />
2. Tidak berapa lama kemudian seorang murid sekolah telah membunuh anak guru tusyennya dengan kejam di rumah guru tuisyennya. Apakah puncak dari kekejaman yang demikian.<br />
3. Tidak berapa lama ini ada kejadian penembak pencuri membunuh mangsanya dengan sewenang-wenangnya di merata-rata tempat di sebuah bandar di Amerika Serikat sedangkan hal itu tidak ada sebab mangsa itu dibunuh begitu kejam. Apakah puncaknya?<br />
4. Tidak berapa lama ini seorang wanita telah dibunuh dan dibakar dengan kejam dan dicampakkan ke dalam longkang. Apakah puncaknya.<br />
Kejadian-kejadian sedemikian semuanya berpuncak dari ketiadaan ataupun kurangnya kemampuan mengawal emosi.</p>
<p>Emosi adalah suatu perasaan yang amat mendalam.</p>
<p>Pengenalan<br />
Apakah sebenarnya kecerdasan emosi?<br />
Kecerdasan emosi adalah suatu himpunan kemampuan mental yang membantu kita mengenal pasti dan memahami perasaan kita dan perasaan orang lain. Kecerdasan emosi dapat meningkatkan kemampuan kita mengawal perasaan kita (Meyers, 1999). Ada dua bagian dalam kecerdasan emosi. Bagian pertama melibatkan emosi pemahaman intelektual. Bagian kedua melibatkan emosi yang menjangkau ke dalam sistem intelektual dan menghasilkan pemikiran dan ide kreatif. Bagian kedua ini amat sukar ditentukan dalam makmal tetapi dipercayai wujud.<br />
Dapatkah kecerdasan emosi dipelajari?<br />
Seandainya kecerdasan emosi itu sama seperti kemahiran yang lain maka ia terbentuk sebagiannya oleh genetik dan sebagian lagi oleh lingkungan sekitarnya. Apa yang perlu diajarkan ialah apakah maksud ataupun maknanya perasaan semua itu dan bagaimana kaitannya dengan diri kita dan orang lain.<br />
Permulaannya<br />
Sebelum munculnya konsep kecerdasan emosi (bermula sejak 1990) kecerdasan lazimya dikaitkan dengan suatu kemampuan yang semula jadi, yang dilahirkan bersama seseorang itu – yang lebih dikenali sebagai IQ (Intelligent Quotient). Dalam IQ apa yang diukur adalah kemampuan seseorang menyelesaikan masalah menurut kaedah pentaakulan (reasoning).<br />
Pada tahun 1990 Dr. John D. Mayer dan Dr. Peter Salovey telah menulis satu artikel mengenai kecerdasan emosi di mana mereka telah secara formal mendefinisikan kecerdasan emosi, dan pertama kalinya menunjukkan bahwa kemampuan melaksanakan sesuatu tugas dapat digunakan untuk mengukur kecerdeasan emosi.<br />
Berikutnya , pada tahun 1995 Dr. Daniel Goleman telah menulis sebuah buku berjudul Emotional Intelligence, dan ini telah menarik perhatian banyak orang sehingga menjadi populer dan dikaji oleh banyak orang.<br />
Beberapa artikel, buku dan program televisi turut mempopularkan perkara ini – yang dianggap “sesuatu yang baru mucul dalam kehidupan manusia.”<br />
Majalah Time juga menyatakan bahwa kecerdasan emosi ini “mungkin menjadi peramal terbaik mengenai kejayaan pencapaian kehidupan seseorang.”<br />
Menurut buku Emotional Inelligence yang ditulis oleh Goleman itu, terdapat bukti kecerdasan emosi amat bekuasa bahkan lebih berkuasa daripada IQ dalam sebarang domain kehidupan manusia. Dengan kata lain, kecerdasan emosi lebih mampu mencorakkan kehidupan manusia daripada kecerdasan azali (sedia ada).<br />
Dari sudut saintifiknya, Mayer J.D. (1997), dalam bukunya Emotional Development and Emotional Intelligence, telah mendefinisikan kecerdasan emosi (emotional intelligence) sebagai upaya untuk mentaakul dengan emosi dalam empat perkara: persepsi emosi, menyepadukan emosi dalam pemikiran, memahami emosi dan mengatur emosi.<br />
Bersama-sama dengan Dr. Salovey dan Dr. David Caruso, Dr. Mayer telah membina satu himpunan (set) 12 tugas kemampuan yang digunakan untuk menilai empat model kecerdasan emosi. Di antaranya termasuk menanyakan kepada orang untuk mengenal pasti emosi pada air muka (emotions in faces), dan mengenal pasti himpunan emosi mudah yang apabila digabungkan akan menyamai perasaan yang lebih kompleks. Dengan cara ini kecerdasan emosi dapat diukur secara sah, wujud sebagai satu kemampuan tunggal, dan berkait dengan, tetapi bebas daripada, kecerdasan yang standard.<br />
Pada hari ini apa yang dimaksudkan dengan kecerdasan emosi telah diperluas lagi dan didefinisikan oleh penulis popular dengan beberapa cara – biasanya sebagai suatu acuan ciri-ciri personaliti, seperti “kemahiran empathi, motivasi, persistence,</p>
<p>(Mayer J. D., (1997), in his book Emotional Development and Emotional Intelligence, defined emotional intelligence (EI) as the capacity to reason with emotion in four areas: to perceive emotion, to integrate it in thought, to understand it and to manage it.)<br />
kemesraan dan sosial.” Dr. Salovey, Dr. Caruso dan Dr. Mayer mendefinisikannya sebagai “model bercapur-campur” (mixed model) kerana ia menghimpun berbagai bagian personaliti.<br />
Model popular kecerdasan emosi mempercayai bawa kita dapat meramalkan hasil kehidupan utama dengan menggunakan senarai angkubah (diverse list of variables).<br />
Sungguhpun terdapat perselisihan pendapat di antara kepercayaan popular dengan kepercayaan saintifik, masih ada persetujuan di antara kedua pihak itu, meluaskan lagi pemahaman kita terhadap apa yang dimaksudkan sebagai bijak atau bestari (smart).<br />
Dr. Cary Cherniss (2001) pula mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan melihat (perceive), melahirkan (express), dan mengatur (managed) emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Dia telah memberi contoh bagaimana Martin Luther King mampu menggembleng aktivis dan pemimpin masyarakat membantu menghasilkan perubahan sosial dan masyarakat yang lebih sehat melalui kecerdasan emosi.<br />
1. Hubungan di antara pengawasan emosi dengan keberhasilan kerja.<br />
Jika kita lihat diri kita sendiri dan mengaitkannya dengan keberhasilan kita dan organisasi tempat kita bekerja maka kita akan mendapatkan bahwa peranan emosi kita amat besar. Kejayaan kita dan organisasi kita bergantung kepada kecakapan emosi dan sosial (emotional and social competencies) kita yang melaksanakan tugas yang dipertanggungjawabkan kepada kita. Sejauh mana kita mampu mempengaruhi orang lain dengan kesungguhan kita melaksanakan sesuatu tugas? Sejauh mana kita dapat mengatur reaksi emosi kita sendiri terhadap frustrasi ataupun kekecewaan yang sukar dielakkan dan kegagalan yang berlaku. Semua ini bergantung kepada kemampuan kita menanganinya dengan kecerdasan emosi.<br />
Bagaimana Emosi Terbentuk?<br />
Penulisan mengenai kecerdasan emosi tidak ada membincangkan bagaimana emosi terbentuk. Walau bagaimanapun, menurut kajian psikologi emosi terbentuk menurut perspektif keturunan ras, budaya setempat (termasuk kepercayaan keagamaan), dan budaya sejagat menurut kontek pendidikan yang dipengaruhi oleh bidang fenominologi (phenemenological fields) seseorang.<br />
Manusia bertingkah laku berasaskan kepada pengalaman hasil daripada jalinan pemikiran, perasaan dan tindakan. Lazimnya, apa yang dipikirkan turut mempengaruhi perasaan dan tingkah laku. Jika kita memikirkan sesuatu tugas itu susah maka perasaan kita juga turut terpengaruh – bagaimana penerimaan perasaan kita akan menentukan tindakan yang akan kita ambil. Jika perasaan kita menerimanya sebagai suatu amanah maka kita akan berusaha untuk mencari cara mengatasi kesulitan itu. Tetapi, jika perasaan kita menerima kesulitan itu sebagai suatu tugas yang berat dan yang tidak mampu dilaksanakan maka kita akan menarik diri (mengelakkan) daripada melakukannya.<br />
Dalam hal ini pengalaman kita turut memainkan peranan utama. Jika kita berhasil melakukan sesuatu maka pengalaman itu bersifat positif dan emosi kita terhadapnya menjadi stabil. Pengalaman yang menecewakan pula akan turut menimbulkan emosi ragu-ragu untuk melakukan sesuatu – bimbang akan gagal. Kebimbangan dan takut akan gagal itu adalah suatu emosi yang boleh menghasilkan tekanan.<br />
Emosi dikawal oleh pemikiran dan perasaan. Pemikiran positif lazimnya menghasilkan perasaan positif, dan sebaliknya, pemikiran yang negatif lazimnya menghasilkan perasaan negatif. Pemikiran positif dan perasaan positif lazimnya tidak menghasilkan tekanan dan sebaliknya menghasilkan kestabilan emosi. Yang mempengaruhi emosi lazimnya disebabkan oleh perasaan negatif yang mengahasilkan tekanan. Apabila tertekan emosi akan meningkat.<br />
Dengan penjelasan ini maka jelaslah emosi itu bisa stabil dan tidak ada ketegangan (tension) dan tekanan (stress), dan bisa tidak stabil dan menghasilkan ketegangan dan tekanan—kerungsingan, kebimbangan dan kegelisahan. Apabila emosi tidak stabil maka tingkah laku seseorang itu juga turut tidak stabil.</p>
<p>Persepsi Emosi<br />
Cara kita mempersepsi emosi akan menentukan tahap interaksi kita dengan orang lain. Emosi dapat dikesan dengan dua cara utama, yaitu, (i) melalui bahasa lisan, dan (ii) melalui bahasa bukan lisan.<br />
Bahasa lisan termasuk kata-kata yang digunakan, nada suara, dan metaphor (peribahasa). Umpamanya, “Bunuh jangan lepaskan dia” membawa makna yang berbeda apabila diungkapkan dengan gaya yang berbeda. Nada suara juga boleh ditafsirkan oleh klien menurut persepsinya. Oleh karena itu, maka anda hendaklah berhati-hati memilih kata-kata dan menggunakan nada suara yang memperlihatkan anda memiliki emosi yang stabil dan dapat diterima baik oleh klien. Demikian juga sekiranya anda menggunakan metaphor — pilih dengan cermat sebelum menggunakannya kerana ada kalanya metaphor boleh disalah artikan oleh klien anda. Misalnya, apabila anda menggunakan peribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Peribahasa ini boleh digunakan tetapi penggunaannya hendaklah dengan cermat dan dengan nada suara yang lembut kerana klien boleh menerimanya sebagai suatu cemohan seolah-olah dia tidak melakukan persiapan untuk masa akan datangnya. Jadi, berkatalah dengan baik bila menggunakannya, dan cara menyampaikannya juga hendaklah sesuai dan masanya.<br />
Bahasa bukan lisan ataupun bahasa jasmaniah (body language) juga perlu diberi perhatian. Klien kita melihat diri kita dari perspektif keseluruhan tubuh badan kita. Mimik muka kita, mata kita, gerak laku tangan kita, cara kita memandang dirinya, cara senyuman kita dan bahkan cara kita berjalan turut diperhatikan oleh klien kita. Pandangan pertama itu amat penting dan perlu diberi perhatian sepenuhnya. Di samping memakai pakaian yang kemas, bersih dan bergaya klien turut memerhatikan bahasa jasmaniah anda. Anak mata kita juga dapat dibaca dan ditafsir oleh klien, dan itulah sebabnya ada orang yang mengatakan “sekilas ikan di air, tahu jantan betinanya”. Artinya apa yang dipamerkan di luar akan turut mencerminkan yang di dalam diri kita. Anda harus ingat, tidak mudah orang yang pertama kali kita temui mempercayai diri anda.<br />
Oleh karena itu, anda wajar memamerkan bahasa lisan dan bahasa jasmaniah yang wajar dan dapat diterima oleh klien sebagai usaha untuk mendapatkan penerimaan dan respon yang terbaik lagi positif dari klien. Ini dapat dicapai sekiranya anda mampu membina emosi yang stabil. Emosi yang stabil dapat ditunjukkan melalui kata-kata dan nada suara—bahasa menunjukkan bangsa dan bahasa jasmaniah.<br />
Selain itu, kita juga hendaklah mampu mengetahui emosi orang lain – mereka yang berinteraksi dengan kita, yaitu, klien kita. Klien juga dapat diserap melalui bahasa lisan dan bahasa jasmaniah mereka — sama juga dengan yang telah dihuraikan di atas. Beri perhatian sepenuhnya. Fahami klien anda menurut perspektif dirinya.<br />
Menyatukan Emosi Dalam Pemikiran<br />
Setelah mengenal pasti dan menginsafi emosi kita sendiri maka kita hendaklah menyatukan persepsi itu bagi diri kita sendiri, dan seterusnya menyatukan dengan persepsi emosi mereka yang berinteraksi dengan kita.<br />
Memahami Emosi<br />
Apabila kita mampu memahami emosi kita sendiri yang telah disatukan dan emosi orang lain maka akan menghasilkan komunikasi (interaksi) yang bermakna dan mesra dengan orang lain.<br />
Dengan menguasai emosi yang stabil maka kita dapat menjalin hubungan yang berempathi.<br />
Berempathi bererti kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang berinteraksi dengan kita.<br />
Perhubungan yang berempathi dapat menarik perhatian mereka yang berinteraksi dengan kita.<br />
Mengatur Emosi.<br />
Memantapkan kestabilan emosi (Enhancing emotional stability)</p>
<p>7 KIAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DI KANTOR</p>
<p>Emosi adalah hal begitu saja terjadi dalam hidup Anda. Anda menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respon Anda terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada Anda.<br />
Membahas soal emosi maka sangat eratan kaitannya dengan kecerdasan emosi itu sendiri dimana merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadap frustasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain) dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres.<br />
Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi dan sebagainya.<br />
Nah, agar kecerdasan emosional Anda terjaga dengan baik, berikut 7 ketrampilan yang harus Anda perhatikan dan tak ada salahnya Anda coba:<br />
* Mengenali emosi diri<br />
Ketrampilan ini meliputi kemampuan Anda untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya Anda rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, Anda harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi: takut, sakit hati, marah, frustasi, kecewa, rasa bersalah, kesepian.<br />
* Melepaskan emosi negatif<br />
Ketrampilan ini berkaitan dengan kemampuan Anda untuk memahami dampak dari emosi negatif terhadap diri Anda. Sebagai contoh keinginan untuk memperbaiki situasi ataupun memenuhi target pekerjaan yang membuat Anda mudah marah ataupun frustasi seringkali justru merusak hubungan Anda dengan bawahan maupun atasan serta dapat menyebabkan stres. Jadi, selama Anda dikendalikan oleh emosi negatif Anda justru Anda tidak bisa mencapai potensi terbaik dari diri Anda. Solusinya, lepaskan emosi negatif melalui teknik pendayagunaan pikiran bawah sadar sehingga Anda maupun orang-orang di sekitar Anda tidak menerima dampak negatif dari emosi negatif yang muncul.<br />
* Mengelola emosi diri sendiri<br />
Anda jangan pernah menganggap emosi negatif atau positif itu baik atau buruk. Emosi adalah sekedar sinyal bagi kita untuk melakukan tindakan untuk mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Kemampuan kita untuk mengendalikan dan mengelola emosi dapat membantu Anda mencapai kesuksesan.<br />
Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada Anda.<br />
Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.</p>
<p>* Memotivasi diri sendiri<br />
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional&#8211;menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati&#8211;adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.<br />
Ketrampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki ketrampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.<br />
* Mengenali emosi orang lain<br />
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan ketrampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Ketrampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.<br />
* Mengelola emosi orang lain<br />
Jika ketrampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antar pribadi, maka ketrampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar manusia.<br />
Ketrampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antar pribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antar korporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antar individu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain.<br />
* Memotivasi orang lain<br />
Ketrampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari ketrampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan andal.</p>
<p>Jadi, sesungguhnya ketujuh ketrampilan ini merupakan langkah-langkah yang berurutan. Anda tidak dapat memotivasi diri sendiri kalau Anda tidak dapat mengenali dan mengelola emosi diri sendiri. Setelah Anda memiliki kemampuan dalam memotivasi diri, barulah kita dapat memotivasi orang lain.<br />
Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional<br />
Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Mayer dan Salovey (1993) mengungkapkan ada lima ranah kecerdasan emosional di dalam bahasa, yaitu ( 1) mengenali emosi sendiri, (2) mengatur emosi, dan (3) memotivasi (4) mengenali emosi orang lain, (5) membina hubungan dengan orang lain (1) Mengenali Emosi Sendiri Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.</p>
<p>KUASAI KECERDASAN EMOSI ANDA!</p>
<p>“Siapa pun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan cara yang baik, bukanlah hal mudah.”<br />
~Aristoteles<br />
The Nicomachean Ethics<br />
Mampu menguasai emosi, sering kali orang menganggap remeh pada masalah ini. Padahal, kecerdasan otak saja tidak cukup menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Justru, pengendalian emosi yang baik menjadi faktor penting penentu kesuksesan hidup seseorang.<br />
Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran mental dari seseorang yang cerdas dalam menganalisis, merencanakan dan menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga kompleks. Dengan kecerdasan ini, seseorang bias memahami, mengenal, dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia.<br />
Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak. Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan sesamanya.<br />
Ia pun tahu tujuan hidupnya dan akan bertanggung jawab dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya, sebagai bukti tingginya kecerdasan emosi yang dimilikinya.<br />
Kecerdasan emosi lebih terfokus pada pencapaian kesuksesan hidup yang tidak tampak. Kesuksesan bisa tercapai ketika seseorang bisa membuat kesepakatan dengan melibatkan emosi, perasan, dan interaksi dengan sesamanya. Terbukti, pencapaian kesuksesan seperti materi tidak menjamin kepuasan hati seseorang.<br />
Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan sebutan “EQ”), dikenalkan secara global. Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan emosi secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih dibutuhkan dari pada kecerdasan otak (IQ) seseorang.<br />
Mari kita lihat bagaimana emosi bisa mengubah segala keterbatasan menjadi hal yang luar biasa…<br />
Seorang miliarder terkaya di Amerika Serikat, Donald Trump, adalah contoh apik dalam hal ini. Pada tahun 1980 hingga 1990, Trump dikenal sebagai pengusaha real estate yang cukup sukses, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sebesar satu miliar US dollar.<br />
Dua buku berhasil ditulis pada puncak karirnya, yaitu The Art of The Deal dan Surviving at the Top. Namun jalan yang dilalui Trump tidak selalu mulus…ingat depresi yang melanda dunia di akhir tahun 1990? Pada saat itu harga saham properti pun ikut anjlok dengan drastis. Hingga dalam waktu semalam, kehidupan Trump menjadi sangat kebalikan.<br />
Trump yang sangat tergantung pada bisnis propertinya ini harus menanggung hutang sebesar 900 juta dollar AS! Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi kebangkrutannya. Beberapa temannya yang mengalami nasib serupa berpikir bahwa inilah akhir kehidupan mereka, hingga benar-benar mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.<br />
Di sini kecerdasan emosi Trump benar-benar diuji. Bagaimana tidak, ketika ia mengharap simpati dari mantan istrinya, ia justru diminta memberikan semua harta yang tersisa sebagai ganti rugi perceraian mereka. Orang-orang yang dianggap sebagai teman dekatnya pun pergi meninggalkannya begitu saja. Alasan yang sangat mendukung bagi Trump untuk putus asa dan menyerah pada hidup. Namun itu tidak dilakukannya.</p>
<p>Mengenal Kecerdasan Emosional Remaja</p>
<p>Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) terdapat beberapa fase (Monks, 1985), fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun), remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun) masa remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun) dan diantaranya juga terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan  terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga  kesulitan pada masa tersebut dapat  menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya  dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.<br />
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja bila berinteraksi dalam lingkungannya.<br />
Mengingat bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain,  remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja  mampu untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif.</p>
<p>Apa Sih Kecerdasan Emosional<br />
Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.</p>
<p>Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.<br />
Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.<br />
Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).</p>
<p>Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional<br />
Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat.<br />
Goleman (1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :<br />
Mengenali emosi diri<br />
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.<br />
Mengelola emosi<br />
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri.<br />
Memotivasi diri<br />
Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.<br />
Mengenali emosi orang lain<br />
Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.<br />
Membina hubungan dengan orang lain<br />
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.  Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang  menyebabkan seseroang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.<br />
Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas, diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. Dengan demikian energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arisupriyanto.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arisupriyanto.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=4&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/ukuran-emosi-dan-kecerdasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70557f6f6b7fffe681491824eccf8617?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arisupriyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/hello-world/</link>
		<comments>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 01:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arisupriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=1&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arisupriyanto.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arisupriyanto.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arisupriyanto.wordpress.com&amp;blog=8154009&amp;post=1&amp;subd=arisupriyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arisupriyanto.wordpress.com/2009/06/13/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70557f6f6b7fffe681491824eccf8617?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arisupriyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
